AlurNews.com – Warga Pulau Rempang, Batam, menggelar pesta rakyat di Kampung Sungai Raya dengan menampilkan berbagai atraksi budaya.
Kaum perempuan tampil mengekspresikan perjuangan mereka mempertahankan kampung dari ancaman penggusuran akibat rencana Proyek Rempang Eco City. Acara ini bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan ke-80 Indonesia.
Pesta rakyat dibuka dengan pernyataan sikap ratusan warga yang menegaskan penolakan terhadap penggusuran. Mereka menekankan bahwa Pulau Rempang telah dihuni secara turun-temurun selama ratusan tahun.
Sebanyak 14 tarian ditampilkan dalam pesta rakyat yang mengusung tema “Kobarkan semangat, lumpuhkan rasa takut, maju tak gentar, berani bergerak demi kebenaran”. Semua tarian dibawakan oleh perempuan, mulai dari anak-anak hingga orang tua.
Ketua Panitia, Bernardus Hengki, mengatakan kegiatan yang digelar pada Sabtu (23/8/2025) lalu menjadi pesan jelas kepada pemerintah bahwa Rempang bukanlah pulau kosong. Hingga kini, masyarakat tetap memperjuangkan kampung agar tidak bergeser menjadi kawasan Taman Buru atau hutan konservasi, setelah sebelumnya mereka menolak masuknya investasi PT Makmur Elok Graha (MEG).
“Ini kampung yang ditinggalkan orang tua kami untuk kami. Dulu masuk dalam kawasan investasi, sekarang malah muncul wacana jadi kawasan hutan buru,” ujarnya, Selasa (26/8/2025).
Menurut Hengki, penampilan para peserta juga menyampaikan pesan tentang kerukunan dan keberagaman masyarakat Pulau Rempang yang bersatu memperjuangkan hak atas tanah mereka. Ia menegaskan, pemerintah perlu melihat bahwa warga masih berjuang mempertahankan kampung.
Hal senada disampaikan warga Kampung Sembulang Pasir Merah, Siti Hawa atau yang akrab disapa Nek Awe. Ia menegaskan bahwa masyarakat Rempang akan terus bertahan demi kampung yang telah mereka huni secara turun-temurun.
“Persatuan warga sangat penting. Kalau sebagian tanah sudah dirampas, yang lain pasti ikut,” tegasnya. (nando)