Kaji Ulang Perjanjian Kerja Sama, BP Batam Siapkan Task Force Hadapi Krisis Air

11 hours ago 4
krisis air batamMobil tangki air yang menyuplai air bersih di Perumahan Tiban Riau Bertuah 3. Foto: AlurNews.com

AlurNews.com – Badan Pengusahaan (BP) Batam mengkaji ulang perjanjian kerja sama dengan PT Moya Indonesia, selaku perusahaan pengelola air baku di Batam, Kepulauan Riau menyusul krisis air dari proses distribusi yang terjadi di beberapa wilayah.

Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait menjelaskan untuk hal ini BP Batam telah membentuk tim task force, berdasarkan pada hasil rapat bersama PT Moya paska aksi unjuk rasa warga Tanjung Sengkuang, Batu Ampar, Kamis (22/1/2026) lalu yang menuntut air bersih paska tidak mengalir selama satu tahun.

Ariastuty juga menyebutkan, dalam rapat ini ditemukan sejumlah kekurangan yang dinilai perlu disempurnakan. Karena itu, BP Batam berencana melakukan amendemen perjanjian yang mengacu pada sejumlah persoalan aktual, baik di sektor hulu maupun hilir.

“Dari pelayanan di hulu ada catatan utama mengenai persoalan waduk yang menjadi stok air bersih di Batam, dan kualitas air baku. Sementara di hilir, pembahasan mencakup pembangunan dan penguatan jaringan pipa distribusi,” jelasnya saat dihubungi melalui sambungan telepon, Selasa (3/2/2026).

Pihaknya menyebut, ke depan amandemen terbaru ditargetkan dilakukan pada tahun 2026. Setelah melalui pembahasan lebih detail serta koordinasi dengan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), BPKP, dan kejaksaan untuk memastikan aspek tata kelola dan kepatuhan hukum tetap terjaga.

Berdasarkan hasil pendataan, persoalan utama terkait distribusi air bersih terjadi di 18 titik. Pada titik yang dimaksud, warga mengalami air bersih tidak mengalir sama sekali, hingga air bersih yang mengalir pada jam tertentu dengan rentang waktu 2-3 jam per hari.

“Beberapa kawasan terdampak di antaranya Tanjung Uma, Tiban Lama, Tanjung Sengkuang, Batu Merah, Bengkong, Baloi, hingga kawasan perumahan lainnya,” jelasnya.

Untuk penanganan jangka pendek, BP Batam melakukan rekayasa distribusi di beberapa wilayah seperti Tanjung Sengkuang dan Batu Merah. Meski begitu, karena jalur distribusinya terhubung dengan Nagoya dan Bengkong, rekayasa tersebut turut memengaruhi kuantitas air ke wilayah lain.

Selain rekayasa distribusi, BP Batam juga melakukan flushing pada jaringan yang terindikasi tersumbat. Di Bengkong, misalnya, ditemukan tiga titik sumbatan yang menjadi penyebab aliran kurang lancar.

“Langkah berikutnya adalah pemasangan logger untuk mengatur alur distribusi air ke perumahan-perumahan secara lebih terkontrol. Namun, pelaksanaannya membutuhkan waktu dan proses teknis,” jelasnya.

Percepatan Proyek dan Skema 50:50

Disinggung mengenai anggaran, Ariastuty menyebut BP Batam telah menganggarkan Rp141 miliar untuk 9 jenis proyek yang akan berdampak pada 9 stress area terkait distribusi air bersih. Sementara sembilan wilayah lain belum dapat terakomodasi pada anggaran tahun ini.

Untuk menjawab hal ini, pimpinan BP Batam membuka opsi agar PT Moya sebagai pengelola dapat menangani sembilan proyek lainnya lebih awal, sehingga seluruh 18 stress area dapat ditangani dengan skema pembagian peran 50:50.

“Harapannya, seluruh proyek untuk 18 stress area bisa mulai dikerjakan tahun ini, meskipun penyelesaiannya mungkin ada yang bergeser ke tahun depan,” ujarnya.

Untuk solusi jangka panjang, BP Batam tengah membangun Instalasi Pengolahan Air (IPA) di Sei Ladi yang akan memperkuat suplai ke Tanjung Uma.

Sementara untuk kawasan Tanjung Sengkuang, Batu Merah, dan Bengkong, proyek jaringan akan dilelang pada Februari dan ditargetkan mulai dikerjakan pada Maret, dengan estimasi penyelesaian sekitar Juni hingga Juli.

Sebagai langkah mitigasi, BP Batam juga mengintensifkan distribusi air bersih menggunakan truk tangki. Mekanisme penyaluran kini tidak lagi melalui call center, melainkan berkoordinasi langsung dengan camat, lurah, perangkat RT/RW, dan kepolisian setempat.

“Saat ini, BP Batam memiliki 15 armada truk tangki dan menyewa tambahan 10 unit. Namun, jumlah tersebut dinilai masih perlu ditambah karena luasnya wilayah terdampak. Kalau masih kurang, kita tambahkan lagi. Warga tetap kita layani,” jelasnya.

Warga Mengandalkan Jadwal Kedatangan Truk Air Bersih

Keluhan warga Kota Batam terkait permasalahan distribusi air bersih, semakin menguat di ranah media sosial dimana masyarakat kerap mengeluhkan air tidak mengalir sama sekali bahkan di wilayah perumahan.

Salah satunya disebutkan warga Perumahan Tiban Riau Bertuah Tahap 3, Sekupang yang menyebut bahwa selama satu minggu belakangan seluruh keran air warga sudah tidak dapat digunakan.

“Air udah tidak mengalir selama satu minggu ini. Keran air dibuka yang keluar hanya angin saja,” jelas Jali salah satu warga yang ditemui, Senin (2/2/2026) malam.

Terkait hal ini, seluruh warga Perumahan Tiban Riau Bertuah kini mengandalkan kehadiran truk tangki air bersih yang dijadwalkan datang dua kali dalam sehari.

Untuk stok air bersih di rumah warga, pihak truk tangki air tersebut memberikan jatah dua ember untuk sekali pengisian.

“Untuk air bersih di rumah sekarang mesti standby setiap hari. Mereka datang dua kali sehari dan jatah per rumah satu bak dan satu ember yang paling besar di rumah untuk stok,” jelasnya.

Walau demikian, selaku pelanggan, Jali juga mengeluhkan kinerja perusahaan air bersih Batam. Dengan peristiwa ini, Jali mengaku kerap meninggalkan tempat kerjanya di waktu tertentu untuk menunggu kedatangan truk tangki air.

“Kalau mereka datang siang dan diumumkan di grup warga, mau nggak mau harus cabut bentar dari tempat kerja. Kalau tidak, bisa nggak ada air nanti di rumah,” jelasnya. (Nando)

Read Entire Article
Alur Berita | Malang Hot | Zona Local | Kabar Kalimantan |