TEL AVIV (jurnalislam.com)– Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan akan mengumumkan rencana untuk menduduki Jalur Gaza secara penuh, menurut sejumlah media Israel pada Senin (4/8/2025). Langkah ini disebut akan memperluas operasi militer Israel ke seluruh wilayah Gaza, termasuk area yang diyakini menjadi tempat penahanan para sandera oleh Hamas.
Media-media seperti i24NEWS, The Jerusalem Post, Channel 12, dan Ynet mengutip sumber-sumber yang menyatakan bahwa keputusan tersebut telah diambil.
“Keputusan telah dibuat,” kata Amit Sega, kepala analis politik Channel 12, mengutip pernyataan seorang pejabat senior di kantor Netanyahu yang tidak disebutkan namanya.
“Hamas tidak akan membebaskan lebih banyak sandera tanpa penyerahan total, dan kami tidak akan menyerah. Jika kami tidak bertindak sekarang, para sandera akan mati kelaparan, dan Gaza akan tetap di bawah kendali Hamas,” ujar sumber tersebut.
𝗞𝗲𝗰𝗮𝗺𝗮𝗻 𝗣𝗮𝗹𝗲𝘀𝘁𝗶𝗻𝗮
Kementerian Luar Negeri Palestina mengecam rencana tersebut dan mendesak komunitas internasional untuk segera mengambil tindakan guna mencegah implementasinya.
Mereka menyebut langkah itu bisa saja merupakan bentuk tekanan, uji coba untuk mengukur reaksi global, atau bahkan rencana nyata yang serius.
Sementara itu, kantor Netanyahu belum memberikan tanggapan atas permintaan konfirmasi dari media Al Jazeera.
𝗧𝗲𝗸𝗮𝗻𝗮𝗻 𝗗𝗼𝗺𝗲𝘀𝘁𝗶𝗸 𝗱𝗮𝗻 𝗜𝗻𝘁𝗲𝗿𝗻𝗮𝘀𝗶𝗼𝗻𝗮𝗹
Rencana ini muncul menjelang pertemuan kabinet perang Israel yang dijadwalkan pada Selasa, di mana Netanyahu dan para pejabat tinggi militer akan membahas langkah strategis berikutnya dalam konflik yang telah berlangsung hampir dua tahun di Gaza.
Netanyahu saat ini menghadapi tekanan besar baik dari dalam negeri maupun komunitas internasional. Di satu sisi, masyarakat dunia mendesak Israel untuk membuka lebih banyak akses bantuan kemanusiaan ke Gaza dan menghentikan agresi militer yang terus menelan korban jiwa. Di sisi lain, warga Israel menuntut pemerintahnya untuk segera membebaskan para sandera yang masih ditahan Hamas.
Pada Senin (4/8), serangan militer Israel kembali menewaskan sedikitnya 74 warga Palestina di Gaza, termasuk 36 orang yang sedang mengantre bantuan, menurut sumber medis setempat.
Netanyahu dalam rapat kabinet hari Senin kembali menegaskan bahwa tujuan utama perang adalah menghancurkan Hamas, membebaskan para sandera, dan menjamin bahwa Gaza tidak lagi menjadi ancaman bagi Israel.
“Kita harus tetap bersatu dan terus berjuang untuk mencapai semua tujuan perang: mengalahkan musuh, membebaskan sandera kita, dan memastikan Gaza tidak lagi menjadi ancaman,” kata Netanyahu.
𝗛𝗮𝗺𝗮𝘀: 𝗡𝗲𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮𝗵𝘂 𝗕𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝗴𝗴𝘂𝗻𝗴 𝗝𝗮𝘄𝗮𝗯 𝗮𝘁𝗮𝘀 𝗡𝘆𝗮𝘄𝗮 𝗦𝗮𝗻𝗱𝗲𝗿𝗮
Menanggapi perkembangan terbaru, pejabat senior Hamas, Osama Hamdan, menuduh pemerintah Israel khususnya Netanyahu bertanggung jawab penuh atas keselamatan para sandera. Ia menyebut bahwa sikap keras kepala, arogansi, serta penolakan Netanyahu terhadap kesepakatan gencatan senjata telah memperburuk penderitaan rakyat Gaza dan mengancam nyawa para tahanan.
“Hanya ada satu pihak yang bertanggung jawab: Netanyahu, karena menghindar dari kesepakatan dan terus melancarkan perang pemusnahan serta kelaparan terhadap rakyat kami,” ujarnya.
Menurut data dari Kementerian Kesehatan Gaza, jumlah korban jiwa akibat agresi militer Israel sejak 7 Oktober 2023 telah mencapai lebih dari 60.930 orang, termasuk setidaknya 18.430 anak-anak.
Sementara itu, otoritas Israel menyatakan masih ada 49 orang sandera yang diyakini masih berada di Gaza. Dari jumlah tersebut, 27 di antaranya diduga telah meninggal dunia. (Bahry)
Sumber: Al Jazeera