GAZA (jurnalislam.com)– Kepala militer Israel pada Rabu (13/8/2025) mengumumkan bahwa pihaknya telah menyetujui rencana untuk “menduduki Gaza”, sementara Hamas mengecam serangan darat yang menghancurkan rumah warga sipil di Kota Gaza.
Persetujuan atas perluasan operasi ini muncul beberapa hari setelah kabinet keamanan Israel menyerukan perebutan kota terbesar di wilayah Palestina tersebut, di tengah perang yang telah berlangsung selama 22 bulan dan menciptakan krisis kemanusiaan yang parah.
“Pagi ini kami menyetujui rencana untuk pendudukan Gaza,” kata Kepala Angkatan Bersenjata Israel, Letnan Jenderal Eyal Zamir, dalam pernyataan yang dirilis militer.
Pemerintah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu belum menentukan jadwal pasti kapan pasukan akan memasuki Kota Gaza, yang kini menjadi tempat berlindung ribuan warga setelah melarikan diri dari serangan sebelumnya.
Direktur Kantor Media Pemerintah Hamas di Gaza, Ismail Al-Thawabta, mengatakan pasukan Israel “terus melakukan serangan agresif di Kota Gaza”,
“Serangan-serangan ini merupakan eskalasi berbahaya yang bertujuan untuk memaksakan realitas baru di lapangan dengan kekerasan, melalui kebijakan bumi hangus dan penghancuran total properti sipil,” katanya.
Warga melaporkan ledakan besar di wilayah Tal al-Hawa dan pergerakan tank di bagian selatan kota tersebut.
Sabah Fatoum (51) yang tinggal di sebuah tenda di lingkungan Tal al-Hawa di kota itu, mengatakan kepada AFP melalui telepon bahwa “ledakannya sangat besar” di daerah tersebut.
“Ada banyak serangan udara dan tank-tank bergerak maju di wilayah selatan Tal al-Hawa dengan drone di atas kepala kami”, katanya.
Abu Ahmed Abbas (46), warga Zeitoun, menyebut tank-tank Israel telah menghancurkan rumah-rumah di wilayahnya sejak beberapa hari terakhir.
“Tank-tank telah bergerak maju ke bagian tenggara Zeitoun dan selatan Tal al-Hawa selama beberapa hari dan menghancurkan rumah-rumah.” katanya.
“Serangan udara sangat intens, semakin intensif, dan terkadang terjadi penembakan artileri sejak Ahad lalu,” sambung Abbas.
Badan Pertahanan Sipil Gaza melaporkan sedikitnya 75 orang tewas akibat serangan Israel pada Rabu. Rekaman AFP menunjukkan warga melarikan diri dari permukiman Zeitoun dan Asqoola menggunakan gerobak, van, dan sepeda.
“Saya tidak membawa kasur atau apa pun, dan kami baru saja lolos dari maut dan sekarang kami melarikan diri dan tidak tahu harus ke mana,” kata Fidaa Saad, seorang pengungsi Palestina.
Diplomasi untuk mencapai gencatan senjata dan pembebasan tawanan masih buntu setelah perundingan terakhir pada Juli gagal. Mesir, bersama Qatar dan Amerika Serikat, berupaya menengahi gencatan senjata 60 hari dengan pertukaran tahanan serta pembukaan akses bantuan kemanusiaan tanpa batasan. Delegasi senior Hamas dilaporkan tiba di Kairo untuk pembicaraan awal dengan pejabat Mesir.
Rencana Israel memicu kecaman internasional dan penolakan dari dalam negerinya. Sejumlah pilot cadangan dan pensiunan angkatan udara Israel berunjuk rasa di Tel Aviv, memperingatkan bahwa perluasan perang akan meningkatkan korban jiwa, termasuk sandera dan warga sipil di Gaza.
“Perang dan perluasan ini hanya akan menyebabkan kematian para sandera, kematian lebih banyak tentara Israel, dan kematian lebih banyak lagi warga Palestina tak berdosa di Gaza,” kata Guy Poran, seorang mantan pilot angkatan udara.
Situasi kemanusiaan semakin memburuk. Kementerian Kesehatan Gaza mencatat setidaknya 235 orang, termasuk 106 anak, tewas akibat kelaparan sejak Oktober 2023. Israel secara ketat membatasi masuknya bantuan kemanusiaan, sementara ribuan warga diyakini masih terperangkap di bawah reruntuhan bangunan.
Sejak awal perang, serangan Israel telah menewaskan sedikitnya 61.722 warga Palestina dan melukai 154.525 lainnya, menurut data Kementerian Kesehatan Gaza. (Bahry)
Sumber: TNA