Hamas Terima Usulan Tukar Tawanan dan Gencatan Senjata Sementara

1 week ago 19

GAZA (jurnalislam.com)– Hamas mengumumkan bahwa pihaknya telah menyetujui proposal gencatan senjata terbaru yang diajukan oleh mediator Qatar dan Mesir. Langkah ini disampaikan pada Senin (18/8/2025) dan dinilai membuka peluang dimulainya kembali perundingan untuk mengakhiri perang Israel di Jalur Gaza yang telah menewaskan lebih dari 62.000 warga Palestina.

“Hamas, bersama dengan faksi-faksi Palestina, menyampaikan penerimaan mereka atas proposal yang diajukan kemarin oleh mediator Qatar dan Mesir,” demikian pernyataan singkat Hamas. Media Israel, The Times of Israel dan Channel 12, melaporkan bahwa Tel Aviv telah menerima tanggapan Hamas tersebut.

Menurut sumber yang mengetahui perundingan, proposal tersebut mencakup penghentian sementara operasi militer selama 60 hari. Dalam periode itu, tentara Israel akan direlokasi guna memungkinkan masuknya bantuan kemanusiaan. Selain itu, separuh dari 50 tawanan Israel akan ditukar dengan tawanan Palestina.

Sumber yang dikutip Al Jazeera menyebut bahwa kesepakatan ini “menandai awal dari jalan menuju solusi komprehensif.”

Pengumuman Hamas datang setelah Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani, melakukan pembicaraan dengan Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi di Kairo.

𝗣𝗲𝗿𝗱𝗲𝗯𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗗𝘂𝗿𝗮𝘀𝗶 𝗚𝗲𝗻𝗰𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗦𝗲𝗻𝗷𝗮𝘁𝗮

Meski demikian, pengumuman ini belum menjamin berakhirnya perang. Hamas menginginkan penghentian permanen, sementara Israel hanya bersedia menyetujui gencatan senjata sementara yang memungkinkan dilanjutkannya operasi militer setelah pembebasan tawanan.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan pihaknya tengah mematangkan rencana merebut Kota Gaza.

“Kami telah berbicara mengenai rencana ini. Hamas berada di bawah tekanan berat,” ujarnya.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa Hamas hanya bersedia membahas pembebasan tawanan karena khawatir akan jatuhnya Kota Gaza. Sementara itu, Menteri Keuangan sayap kanan Bezalel Smotrich menolak keras setiap bentuk gencatan senjata.

“Hamas mencoba menghentikan tekanan dengan kembali ke kesepakatan parsial. Justru karena alasan inilah kita tidak boleh menyerah dan memberi musuh jalan keluar,” kata Smotrich.

𝗦𝗶𝘁𝘂𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗶 𝗟𝗮𝗽𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻

Koresponden Al Jazeera, Hamdah Salhout, melaporkan bahwa militer Israel menghadapi kekurangan personel tempur. Pihak militer telah berulang kali menyerukan wajib militer, baik di dalam maupun luar negeri, untuk menambah kekuatan.

“Mereka mengatakan bertekad melanjutkan rencana merebut Kota Gaza, tetapi belum jelas kapan dan bagaimana akan dilakukan,” kata Salhout.

𝗨𝗽𝗮𝘆𝗮 𝗗𝗶𝗽𝗹𝗼𝗺𝗮𝘀𝗶 𝗕𝗲𝗿𝗹𝗮𝗻𝗷𝘂𝘁

Para mediator diperkirakan segera mengumumkan jadwal dimulainya kembali perundingan. Upaya Qatar dan Mesir sebelumnya gagal menghasilkan kesepakatan gencatan senjata yang langgeng.

Pada Januari lalu, gencatan senjata yang ditengahi Qatar, Mesir, dan Amerika Serikat sempat berlaku namun dilanggar Israel pada Maret. Sejak itu, blokade Israel terhadap pasokan bantuan memperparah krisis kemanusiaan, dengan lebih dari 260 warga Palestina dilaporkan meninggal akibat kelaparan.

Putaran terakhir perundingan tidak langsung antara Hamas dan Israel di Doha berakhir tanpa hasil pada 25 Juli lalu. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Read Entire Article
Alur Berita | Malang Hot | Zona Local | Kabar Kalimantan |