Hamas Izinkan Bantuan untuk Tawanan Israel di Gaza, Tapi Ada Syarat yang Harus Dipenuhi

3 weeks ago 31

GAZA (jurnalislam.com)– Kelompok Hamas menyatakan kesiapannya untuk membuka akses bagi Komite Palang Merah Internasional (ICRC) dalam menyalurkan makanan dan obat-obatan kepada warga Israel yang ditawan di Jalur Gaza. Pernyataan ini disampaikan setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu meminta organisasi kemanusiaan yang berbasis di Jenewa itu untuk turun tangan.

Permintaan Netanyahu dan respons Hamas muncul usai beredarnya video yang dirilis kelompok pejuang Palestina pekan lalu. Video tersebut memperlihatkan dua warga Israel yang ditawan dalam kondisi fisik memprihatinkan, memicu kekhawatiran luas terhadap keselamatan mereka di tengah krisis kelaparan di Gaza.

Dalam pernyataan di platform X (sebelumnya Twitter), Netanyahu menyebut dirinya telah berbicara langsung dengan Julian Larson, Kepala Delegasi ICRC untuk Israel, guna meminta “keterlibatan segera” dalam pengiriman bantuan kepada para tawanan. Netanyahu menuduh Hamas menyebarkan “kebohongan kelaparan” di Gaza dan menyatakan bahwa “kelaparan sistematis” justru dialami para sandera Israel.

Menanggapi hal ini, juru bicara Brigade Qassam, sayap militer Hamas, menyampaikan bahwa para tawanan Israel diperlakukan setara dengan rakyat Palestina di Gaza. “Mereka memakan apa yang dimakan para pejuang kami dan rakyat kami. Tidak ada hak istimewa apa pun di tengah kejahatan kelaparan dan pengepungan,” kata Abu Ubaidah.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa Hamas “siap bertindak positif dan merespons setiap permintaan Palang Merah” untuk mengirimkan bantuan kepada para tawanan, selama bantuan kemanusiaan juga disalurkan secara normal dan permanen kepada seluruh penduduk Gaza.

Ia juga menuntut agar serangan Israel “dalam bentuk apa pun” dihentikan selama proses pengiriman bantuan kepada para sandera berlangsung.

Sementara itu, ICRC dalam pernyataannya pada Ahad (3/8) mengaku “terkejut” dengan video yang memperlihatkan kondisi para tawanan Israel. “Video ini merupakan bukti nyata bahwa kondisi mereka sangat membahayakan jiwa,” ujar ICRC, seraya menegaskan kembali seruan untuk diberikan akses kepada para sandera.

ICRC juga menyatakan bahwa keluarga para tawanan “terpukul dan hancur hati” setelah melihat rekaman tersebut. Mereka menambahkan bahwa akses kepada tahanan memerlukan kerja sama semua pihak. Hingga kini, ICRC belum diizinkan mengunjungi para tahanan Palestina di fasilitas penahanan Israel sejak 7 Oktober 2023.

Dalam pernyataan terpisah, ICRC juga mengutuk tewasnya seorang staf Bulan Sabit Merah Palestina (PRCS) di Khan Younis, Gaza selatan. Korban meninggal di dalam gedung PRCS yang telah diberi tanda kemanusiaan dengan jelas. Meski PRCS menyebut serangan dilakukan oleh pasukan Israel, ICRC tidak menyebut pihak yang bertanggung jawab dalam pernyataannya.

𝗞𝗲𝗹𝘂𝗮𝗿𝗴𝗮 𝗦𝗮𝗻𝗱𝗲𝗿𝗮 𝗞𝗲𝗰𝗮𝗺 𝗣𝗲𝗻𝗱𝗲𝗸𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗠𝗶𝗹𝗶𝘁𝗲𝗿 𝗡𝗲𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮𝗵𝘂

Di tengah meningkatnya tekanan internasional, keluarga para sandera Israel mengkritik keras pendekatan militer yang terus dipertahankan oleh Netanyahu. Mereka menyebut strategi tersebut sebagai “bahaya langsung bagi nyawa putra-putra kami”.

“Selama 22 bulan, publik tertipu oleh ilusi bahwa tekanan militer dapat memulangkan para sandera. Bahkan sebelum tercapainya kesepakatan, sudah dikatakan bahwa perjanjian itu tidak berguna,” ujar perwakilan keluarga dalam pernyataan mereka.

Saat ini diperkirakan masih ada sekitar 50 sandera Israel di Gaza, namun hanya sebagian kecil yang diyakini masih hidup.

𝗦𝗶𝘁𝘂𝗮𝘀𝗶 𝗞𝗲𝗺𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶𝗮𝗮𝗻 𝗚𝗮𝘇𝗮 𝗠𝗲𝗺𝗯𝘂𝗿𝘂𝗸

Kondisi kemanusiaan di Gaza terus memburuk. Kantor media pemerintah di Gaza mengungkapkan bahwa pada Sabtu (2/8), Israel hanya mengizinkan 36 truk bantuan masuk ke wilayah tersebut. Sementara itu, sebanyak 22.000 truk bantuan dilaporkan masih menunggu izin untuk menyalurkan makanan yang sangat dibutuhkan.

PBB dalam pernyataan melalui X pada Ahad (3/8) memperingatkan bahwa satu juta perempuan dan anak perempuan di Gaza kini menghadapi kelaparan.

“Ini adalah situasi yang tidak dapat diterima dan harus segera diakhiri,” tegas PBB, seraya mendesak dilakukannya gencatan senjata serta pembebasan seluruh sandera.

Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, setidaknya 175 orang telah meninggal akibat kelaparan paksa, termasuk 93 anak-anak. Salah satunya adalah Atef Abu Khater (17 tahun) yang meninggal pada Sabtu setelah berat badannya turun drastis menjadi hanya 25 kilogram. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Read Entire Article
Alur Berita | Malang Hot | Zona Local | Kabar Kalimantan |