AlurNews.com – Keterlibatan pelajar dalam aksi pawai yang berkaitan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Batam, Kepulauan Riau menuai sorotan dari berbagai pihak salah satunya pemerhati anak, Erry Syahrial.
Erry menilai pelibatan siswa dalam kegiatan yang berlangsung di ruang publik tersebut tidak sejalan dengan prinsip perlindungan anak dan berpotensi mengarah pada eksploitasi anak.
Menurut Erry, aturan pemerintah telah mengatur bahwa siswa tidak seharusnya turun ke jalan untuk menyampaikan aspirasi. Anak-anak seharusnya memiliki ruang yang lebih aman dan sesuai untuk menyuarakan pendapat, seperti melalui sekolah maupun organisasi siswa.
“Anak sekolah bukan tempatnya di jalanan. Jika ingin menyampaikan aspirasi, bisa dilakukan di sekolah atau ruang-ruang yang aman dan ramah anak,” jelasnya melalui sambungan telepon, Rabu (23/6/2026).
Ia menilai pelibatan anak dalam kegiatan yang substansinya berkaitan dengan isu publik dan menuai pro-kontra dapat menempatkan mereka pada posisi rentan. Karena itu, menurutnya, kegiatan semacam itu tidak tepat dilakukan dengan melibatkan siswa secara langsung.
Erry juga menyoroti adanya keterlibatan sejumlah tenaga pendidik dalam kegiatan tersebut. Namun, ia enggan berspekulasi mengenai motif di balik keterlibatan para guru.
“Bisa saja mereka mendapat instruksi atau mungkin belum memahami aturan yang ada. Yang jelas, substansinya tetap sama. Anak-anak tidak seharusnya dibawa ke ruang-ruang yang berpotensi menimbulkan kontroversi,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa persoalan kebijakan publik, termasuk program MBG, merupakan ranah pengambilan keputusan orang dewasa. Sementara anak-anak belum memiliki kapasitas yang memadai untuk memahami seluruh aspek kebijakan tersebut.
“Jangan sampai anak dibenturkan dengan kepentingan lain. Biarkan mereka tumbuh dan berkembang secara alami tanpa harus terlibat dalam pro-kontra yang sebenarnya belum menjadi ranah mereka,” katanya.
Lebih lanjut, Erry mengingatkan agar dunia pendidikan tidak dijadikan ruang yang rentan terhadap kepentingan di luar proses pendidikan itu sendiri. Menurut dia, sekolah harus tetap menjadi lingkungan yang aman, nyaman, dan berorientasi pada tumbuh kembang anak.
Ia meminta Pemerintah Kota Batam maupun BP Batam konsisten dalam menerapkan prinsip perlindungan anak dan tidak menggunakan standar yang berbeda dalam menyikapi keterlibatan pelajar pada kegiatan di ruang publik.
“Kalau memang ada hal yang perlu dievaluasi, lakukan kajian secara menyeluruh terhadap dampaknya kepada anak. Fokus utamanya tetap harus perlindungan anak,” ujarnya. (Nando)

5 hours ago
5


















































