Penulis: Rika Arlianti DM
Peristiwa pembacokan terhadap mahasiswi di lingkungan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim II bukan sekadar kasus kriminal biasa. Ia adalah alarm keras bagi kampus, keluarga, dan masyarakat, bahwa kita sedang menghadapi krisis pengendalian diri, krisis relasi, dan krisis kedewasaan emosional di ruang-ruang yang seharusnya menjadi pusat peradaban ilmu.
Berdasarkan keterangan resmi aparat, motif sementara mengarah pada persoalan relasi pribadi dan konflik emosional. Di ruang publik, beredar pula video kedekatan keduanya yang memunculkan beragam tafsir. Namun apa pun detail hubungan mereka, satu fakta tak terbantahkan, kekerasan telah terjadi.
Kampus Bukan Arena Pelampiasan Luka Batin
Perguruan tinggi, terlebih yang berbasis keislaman, bukan hanya tempat transfer ilmu, tetapi juga pembentukan akhlak. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11).
Ayat ini sering dibaca sebagai legitimasi kemuliaan akademik. Padahal, derajat tinggi dalam Islam bukan hanya karena gelar, melainkan karena iman dan akhlak. Ilmu yang tidak disertai kendali diri berpotensi menjadi alat pembenaran nafsu.
Kasus ini memaksa kita bertanya, “Apakah sistem pendidikan kita sudah sungguh-sungguh membentuk kematangan emosional, atau sekadar mengejar kelulusan dan IPK?”
Ketika Penolakan Dianggap Penghinaan
Salah satu akar kekerasan dalam relasi adalah ilusi kepemilikan. Merasa dekat bukan berarti berhak menguasai. Merasa menyayangi bukan berarti berhak menentukan masa depan orang lain.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Orang kuat itu bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menegaskan standar kekuatan dalam Islam, yakni kontrol diri. Namun realitas hari ini menunjukkan banyak orang gagal menerima penolakan. Padahal, dalam Islam, penolakan adalah bagian dari takdir, bukan penghinaan harga diri.
Ketika cinta berubah menjadi amarah, itu bukan lagi cinta, melainkan ego yang terluka.
Relasi Tanpa Batas: Bibit Luka yang Sering Diremehkan
Jika benar terdapat kedekatan intens sebagaimana yang beredar di media sosial, maka kita juga perlu jujur pada satu hal, bahwa Islam mengatur batas bukan untuk mengekang, tetapi untuk melindungi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan janganlah kamu mendekati zina.” (QS. Al-Isra: 32).
Perhatikan kata “mendekati”. Islam menutup pintu sejak awal, karena yang berbahaya bukan hanya perbuatan besar, tetapi proses menuju ke sana, seperti kedekatan tanpa kejelasan, ekspektasi sepihak, pun keterikatan emosional tanpa komitmen.
Relasi yang tidak terdefinisi sering melahirkan asumsi yang tidak disepakati. Dan ketika ekspektasi itu runtuh, sebagian orang memilih jalan paling keliru, yakni kekerasan; tindakan kriminal.
Menjaga Jiwa: Prinsip yang Dilupakan
Sering kali kita lupa bahwa menjaga jiwa (hifzh an-nafs) adalah salah satu tujuan utama hukum Islam. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Barang siapa membunuh satu jiwa… maka seakan-akan dia telah membunuh seluruh manusia.” (QS. Al-Maidah: 32).
Ayat ini menegaskan betapa sakralnya nyawa manusia. Kekerasan karena urusan pribadi adalah bentuk pengkhianatan terhadap prinsip tersebut.
Lebih jauh, kasus seperti ini menunjukkan bahwa persoalan kesehatan mental dan pengendalian emosi tidak bisa lagi dianggap isu sekunder. Kampus harus menyediakan ruang konseling yang aktif, bukan sekadar formalitas administratif.
Tanggung Jawab Kolektif
Tragedi ini bukan hanya tanggung jawab pelaku secara hukum. Ia juga menjadi refleksi kolektif:
1) Kampus, perlu memperkuat sistem keamanan dan layanan psikologis yang responsif.
2) Keluarga, harus lebih peka terhadap perubahan perilaku dan tekanan emosional anak.
3) Masyarakat, wajib berhenti membangun narasi spekulatif sebelum fakta hukum final.
4) Bagi generasi muda, pelajarannya jelas, bahwa cinta tidak pernah membenarkan kekerasan. Penolakan bukan akhir harga diri. Tidak semua perasaan harus dimiliki, dan tidak semua kehilangan harus dibalas.
Penutup: Mengembalikan Martabat Cinta
Islam tidak memusuhi cinta. Islam justru memuliakannya dengan aturan. Cinta yang sehat menghargai pilihan. Cinta yang dewasa siap menerima takdir. Cinta yang beriman tidak memaksa. Cinta yang tulus senantiasa menjaga.
Tragedi di UIN Suska Riau adalah peringatan bahwa tanpa iman dan kendali diri, emosi bisa berubah menjadi bencana. Ketika bencana itu terjadi di ruang pendidikan Islam, sejatinya kita tidak boleh sekadar berduka, tapi kita harus berbenah. Sebab peradaban tidak runtuh karena kurangnya ilmu, tetapi karena hilangnya akhlak. Wallahu a’lam bisshowab.

11 hours ago
6

















































