AlurNews.com – Komisi XII DPR RI mendesak sektor industri di Batam untuk semakin menunjukkan peran sebagai tulang punggung industri strategis nasional. Hal ini mengingat sektor penunjang hulu minyak dan gas bumi (migas), dinilai memiliki daya saing tinggi, bahkan disebut tidak kalah dari industri sejenis di Singapura.
Ketua Komisi XII DPR RI, Bambang Patijaya menyatakan hal ini setelah melihat kondisi langsung kesiapan dan kemampuan industri penunjang hulu migas dalam negeri pada kunjungan nya kerja Tim Panitia Kerja (Panja) Migas Komisi XII DPR RI ke PT Dwi Sumber Arca Waja (DSAW), Kamis (5/2/2026).
Menurutnya, hasil peninjauan lapangan memberikan kepercayaan diri bahwa Indonesia sebenarnya telah memiliki basis industri penunjang migas yang kuat, baik dari sisi teknologi maupun inovasi.
“Bahkan, kualitasnya dinilai mampu bersaing dengan negara tetangga seperti Singapura yang selama ini dikenal sebagai pusat industri perminyakan di kawasan,” ujarnya saat ditemui di kawasan industru Kabil, Nongsa, Batam, Kepulauan Riau, Kamis (5/2/2026).
Salah satu hal yang paling menarik perhatian adalah capaian Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) industri migas di Batam yang telah menyentuh hampir 70 persen, tepatnya 69,68 persen.
“TKDN sering dianggap momok, karena industri migas itu identik dengan orientasi ekspor. Tapi di Batam ini justru sudah mendekati 70 persen. Ini capaian yang luar biasa,” jelasnya.
Capaian tersebut, lanjut dia, menjadi dasar bagi Komisi XII DPR RI untuk mendorong industri migas nasional agar semakin mengutamakan penggunaan produk dan jasa dari dalam negeri. DPR juga mendorong adanya investasi lanjutan serta inovasi berkelanjutan agar daya saing industri nasional semakin menguat.
Hal ini mengingat adanya sejumlah isu strategis, mulai dari komitmen penggunaan baja produksi PT Krakatau Steel di tengah gempuran baja impor murah dari China, hingga komposisi tenaga kerja lokal dan asing.
Bambang juga menyebut, keuntungan lain yang dimiliki industri hulu migas di Batam adalah kawasan industri yang telah dilengkapi pelabuhan internasional. Fasilitas ini memungkinkan produk migas dikapalkan langsung ke negara tujuan tanpa harus transit ke negara tetangga.
“Saat ini, industri penunjang hulu migas di Batam telah menyerap sekitar 15.000 tenaga kerja, dengan hampir 98 persen di antaranya merupakan pekerja dalam negeri,” jelasnya.
Sementara itu, pimpinan PT Dwi Sumber Arca Waja (DSAW), Kris Wiluan menilai kunjungan Komisi XII DPR RI ke Batam sebagai sinyal positif bagi pelaku industri. Menurut dia, kehadiran wakil rakyat menjadi bentuk nyata dukungan pemerintah dan legislatif terhadap pengembangan industri penunjang hulu migas di Indonesia.
“Industri ini sejak awal dibangun dengan semangat agar Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” ujar Kris.
Ia menjelaskan, selama bertahun-tahun proses pabrikasi dan pembuatan peralatan migas lebih banyak dilakukan di Singapura. Melihat potensi besar yang dimiliki Batam, pihaknya kemudian mengembangkan kawasan industri migas sebagai alternatif strategis di dalam negeri.
Pengembangan industri penunjang hulu migas di Batam, kata Kris, tidak hanya berorientasi bisnis, tetapi juga berdampak langsung pada ekonomi nasional. Mulai dari lahirnya perusahaan rintisan, pengurangan devisa keluar negeri, hingga penciptaan lapangan kerja.
“Sejak beroperasi, kami berkomitmen untuk berkontribusi pada pembangunan nasional, khususnya di sektor minyak dan gas,” jelasnya. (nando)

4 days ago
15


















































