Oleh: Rika Arlianti DM
Ada berita-berita yang selesai kita baca, lalu kita geser layar dan kembali melakukan aktivitas seperti biasa. Tetapi ada juga berita yang membuat kita berhenti sebentar.
Mungkin bukan karena kita mengenal korbannya. Bukan pula karena kejadiannya terjadi di dekat rumah kita. Melainkan karena di balik berita itu ada seorang anak.
Seorang anak yang seharusnya masih sibuk memikirkan sekolah, teman, cita-cita, hal-hal kecil yang membuatnya tertawa, dan masa depan yang masih panjang.
Beberapa hari terakhir, pemberitaan tentang kekerasan seksual terhadap remaja kembali muncul dari beberapa daerah. Di Soppeng, seorang remaja perempuan berusia 16 tahun dilaporkan menjadi korban kekerasan seksual yang melibatkan sejumlah remaja. (https://www.detik.com/sulsel/hukum-dan-kriminal/d-8641404/tragis-gadis-abg-soppeng-diperkosa-pacar-bareng-8-remaja-di-hotel).
Di Jakarta Barat, seorang remaja 16 tahun dilaporkan menjadi korban kekerasan seksual oleh pria yang dikenalnya melalui media sosial. (https://www.detik.com/sumut/hukum-dan-kriminal/d-8666124/remaja-di-jakbar-dicabuli-kenalanan-dari-medsos-berulang-kali-polisi-selidiki).
Sementara di Ogan Ilir, polisi menangani kasus dugaan pencabulan terhadap remaja berusia 14 tahun. Kasus-kasus tersebut kini berada dalam proses hukum. (https://www.detik.com/sumbagsel/hukum-dan-kriminal/d-8663854/pria-di-ogan-ilir-ditangkap-diduga-cabuli-remaja-14-tahun).
Saya tidak ingin membicarakan berita-berita itu dengan cara yang membuat korban kembali menjadi tontonan. Saya justru ingin bertanya kepada kita semua. Sudahkah kita benar-benar mengajarkan anak tentang dunia yang sedang mereka masuki?
Karena hari ini, anak-anak tidak hanya tumbuh di lingkungan rumah, sekolah, dan tempat bermain. Mereka juga tumbuh di dalam layar. Di sana ada teman, ada hiburan, ada informasi, dan ada orang-orang baik.
Tetapi di sana juga ada orang asing yang bisa datang dengan wajah yang ramah, kata-kata yang menyenangkan, perhatian yang terasa tulus, lalu perlahan-lahan membangun kepercayaan.
Namun, sering kali anak belum memiliki pengalaman hidup yang cukup untuk mengenali kapan perhatian berubah menjadi manipulasi. Di sinilah saya merasa bahwa tugas orang dewasa bukan sekadar berkata, “Jangan bertemu orang dari media sosial”.
Bukan hanya, “Jangan pacaran!” Bukan pula, “Jangan percaya siapa pun!”.
Sebab anak membutuhkan sesuatu yang jauh lebih penting, yakni kemampuan untuk memahami batas dirinya dan keberanian untuk mencari pertolongan ketika sesuatu terasa tidak benar.
Anak perlu tahu bahwa mengatakan tidak bukan berarti tidak sopan. Bahwa seseorang yang marah karena permintaannya ditolak bukan berarti anak harus merasa bersalah. Bahwa perhatian tidak selalu berarti kasih sayang. Bahwa hadiah, rayuan, ajakan, atau kata-kata manis tidak pernah membuat seseorang berhak melanggar batas dirinya.
Tidak kalah penting, jika sesuatu terjadi pada dirinya, ia harus tahu ke mana harus pulang. Pulang bukan hanya dalam arti rumah. Tetapi kepada orang dewasa yang akan mendengarkan tanpa langsung menghakimi.
Sebab terkadang yang membuat seorang anak diam bukan karena ia tidak tahu bahwa sesuatu itu salah. Bisa jadi ia takut. Takut dimarahi, disalahkan. Takut orang tuanya kecewa, takut tidak dipercaya, atau takut setelah bercerita, hidupnya justru menjadi semakin rumit.
Karena itu, menjadi orang tua bukan hanya tentang mengetahui anak pergi ke mana. Bukan sekadar memantau isi handphone-nya, bukan hanya mengetahui dengan siapa ia berteman.
Lebih dari itu, menjadi orang tua adalah memastikan bahwa ketika anak berada dalam masalah, orang pertama yang terlintas dalam pikirannya adalah kita.
Saya kira ini bagian yang sering terlupakan dalam pembicaraan tentang perlindungan anak. Kita begitu sibuk mengajarkan anak agar berhati-hati terhadap orang lain, tetapi kadang lupa memastikan bahwa anak merasa aman untuk bercerita kepada kita. Padahal pengawasan tanpa kedekatan bisa membuat anak pandai menyembunyikan sesuatu.
Sebaliknya, kedekatan yang sehat membuat anak punya tempat untuk kembali ketika ia bingung. Dan tentu saja, semua tanggung jawab ini tidak boleh diletakkan hanya di pundak orang tua.
Sekolah juga punya peran. Guru perlu mengajarkan bahwa menjaga diri bukan sekadar materi pelajaran, melainkan bagian dari kehidupan.
Anak perlu mengenal batas tubuh, batas privasi, relasi yang sehat, keamanan digital, serta cara meminta bantuan ketika menghadapi situasi yang membuatnya tidak nyaman. Bukan untuk membuat anak takut kepada dunia. Justru supaya mereka cukup mengenal dunia untuk bisa menjalaninya dengan lebih aman.
Sebab kita tidak mungkin selamanya berada di samping mereka. Akan ada hari ketika mereka pergi sendiri, membawa telepon sendiri, bertemu orang baru, dan membuat keputusan sendiri.
Pada saat itu, yang kita harapkan bukan anak yang takut kepada semua orang. Melainkan anak yang mengenal nilai dirinya, memahami batasnya, mampu mengatakan tidak, dan tahu kepada siapa ia harus meminta pertolongan.
Ada satu hal lagi yang menurut saya penting. Ketika membaca berita tentang anak yang menjadi korban kekerasan seksual, jangan buru-buru bertanya, “Kenapa dia mau pergi?”, “Kenapa dia percaya?”, “Kenapa tidak melawan?” dan “Kenapa tidak cerita dari awal?”.
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu mungkin terdengar sederhana, tetapi bisa berubah menjadi beban tambahan bagi seseorang yang sudah mengalami sesuatu yang tidak seharusnya ia alami.
Pertanyaan pertama kita seharusnya adalah “Bagaimana kita bisa memastikan anak ini aman sekarang?” Kemudian, “Bagaimana kita bisa membantunya pulih?” Dan yang tidak kalah penting, “Apa yang harus kita perbaiki agar kejadian serupa tidak terus berulang?”
Sebab anak bukan hanya perlu diselamatkan setelah sesuatu terjadi. Anak perlu dilindungi sebelum sesuatu terjadi.
Tiga berita itu mungkin hanya beberapa judul di antara begitu banyak berita lain yang setiap hari muncul di layar kita. Tetapi bagi keluarga korban, itu bukan sekadar berita.
Ada kehidupan yang berubah. Ada kepercayaan yang mungkin retak. Ada proses panjang untuk memulihkan diri. Dan ada orang tua yang mungkin diam-diam bertanya kepada dirinya sendiri, “Di bagian mana saya tidak menyadarinya?”.
Mungkin kita tidak bisa mengawasi anak setiap detik. Kita juga tidak bisa menghilangkan seluruh bahaya dari dunia. Tetapi kita masih bisa melakukan sesuatu yang sangat berarti, seperti membangun rumah yang membuat anak berani pulang, bahkan ketika ia merasa telah melakukan kesalahan.
Karena pada akhirnya, perlindungan anak bukan hanya tentang membuat mereka takut pada dunia. Tetapi tentang membuat mereka tahu bahwa dunia memang tidak selalu aman, tetapi mereka tidak harus menghadapinya sendirian.

12 hours ago
5

















































