97 Persen SPBU di Wilayah Bencana di Aceh Kembali Beroperasi

1 month ago 53
Pasokan BBM di wilayah bencana di Aceh. Foto: Dok. Pertamina

AlurNews.com – Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) bersama PT Pertamina Patra Niaga memastikan pasokan bahan bakar minyak (BBM) di Provinsi Aceh tetap aman pascabencana alam yang melanda sejumlah wilayah.

Di wilayah terdampak seperti Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah, sebanyak 97 persen stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) telah kembali beroperasi.

Kepala BPH Migas Wahyudi Anas mengatakan, meski sejumlah akses jalan dan jembatan masih terputus akibat longsor, distribusi BBM tetap diupayakan menjangkau masyarakat hingga ke wilayah terpencil.

“Salah satu tantangan terbesar ada di Kabupaten Bener Meriah, dbanyak akses jalan dan jembatan putus. Namun distribusi BBM tetap kami pastikan berjalan, termasuk ke desa-desa yang terisolasi,” ujar Wahyudi Senin (19/1/2026).

Wahyudi menjelaskan, selama masa tanggap darurat bencana, BPH Migas memberikan keringanan pembelian BBM subsidi secara manual tanpa barcode.

Kebijakan tersebut bertujuan mencegah kepanikan masyarakat serta mempermudah pemenuhan kebutuhan energi, termasuk untuk menyalakan genset bantuan pemerintah.

Provinsi Aceh saat ini masih berada dalam masa tanggap darurat bencana keempat yang berlaku mulai 9 hingga 22 Januari 2026, sesuai Keputusan Gubernur Aceh. Sebelumnya, status tanggap darurat telah diberlakukan sejak 28 November 2025 dan diperpanjang beberapa kali.

Berdasarkan hasil pemantauan BPH Migas, kebijakan keringanan pembelian Jenis BBM Tertentu (JBT) dan Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) dinilai berjalan efektif dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat terdampak.

Keterbatasan akses jalan menuju Bener Meriah dan Aceh Tengah membuat armada mobil tangki besar tidak dapat melintas. Saat ini, kendaraan yang bisa digunakan hanya mobil tangki berkapasitas sekitar 8 kiloliter (KL).

Untuk menjangkau desa-desa terisolasi, Pertamina menerapkan sistem distribusi estafet menggunakan jeriken dan drum yang diangkut kendaraan double cabin 4×4.

Selain itu, suplai BBM dari Integrated Terminal Lhokseumawe juga disiapkan melalui hub suplai atau fuel terminal bayangan di Blang Rakal, Kabupaten Bener Meriah.

Dari lokasi tersebut, BBM dipindahkan dari truk tangki berkapasitas 16 KL ke truk yang lebih kecil sebelum didistribusikan ke SPBU dan masyarakat.

“Kami meninjau langsung hub suplai di Blang Rakal. Skema ini menunjukkan kehadiran negara dalam memastikan kebutuhan energi masyarakat di daerah bencana tetap terpenuhi,” jelasnya.

Sepanjang 2025, kebutuhan BBM jenis Biosolar di Provinsi Aceh mencapai 428.324 KL, sementara penyaluran Pertalite mencapai 576.147 KL.

Selama periode bencana pada akhir November hingga Desember 2025, kebutuhan BBM meningkat sekitar 8 persen. Meski demikian, realisasi penyaluran secara nasional masih berada di bawah kuota yang ditetapkan, yakni sekitar 95 hingga 98 persen.

Sementara itu, Executive General Manager PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara Sunardi menegaskan stok BBM di Aceh dalam kondisi aman. Saat ini, stok Biosolar di Integrated Terminal Lhokseumawe tercatat cukup untuk lima hari, sedangkan Pertalite mencapai 5,6 hari.

Melalui skema distribusi estafet, suplai BBM di Bener Meriah telah mencapai sekitar 85 persen dari kebutuhan normal, sementara di Aceh Tengah sekitar 75 persen.

“Jika akses jalan untuk mobil tangki 16 KL sudah kembali normal, distribusi akan langsung dilakukan dari Depot Lhokseumawe ke Bener Meriah dan Aceh Tengah. Kami berharap cuaca segera membaik dan jalur transportasi bisa segera dibuka,” ujar Sunardi.(nando)

Read Entire Article
Alur Berita | Malang Hot | Zona Local | Kabar Kalimantan |