Rempang Disorot: Ambisi Investasi Besar Tersandung Krisis Sampah

5 hours ago 5
investasi rempangInfluencer Batam Yusi Fadila komentari masalah Rempang yang penuh sampah. Foto: Tangkapan layar/Yusi Fadila

AlurNews.com – Pulau Rempang yang tengah diproyeksikan sebagai kawasan strategis berkelas internasional justru menghadapi sorotan tajam dari publik. Di balik ambisi besar menarik investasi, persoalan mendasar berupa pengelolaan sampah dinilai belum tertangani secara serius.

Isu ini mencuat setelah influencer Batam, Yusi Fadila, mengunggah kondisi lingkungan Rempang yang dipenuhi tumpukan sampah. Dalam video yang viral di media sosial, terlihat sampah berserakan di sepanjang jalan, permukiman warga, hingga kawasan pesisir.

“Sepanjang jalan ke rumah penduduk itu sampah betul-betul banyak. Nak dekat laut, nak dekat darat, nak dekat semak-semak… Ngapa sampah orang nih banyak betul macam gini?!” ujarnya dalam unggahan tersebut.

Unggahan itu memicu reaksi luas masyarakat. Warga menilai kawasan Rempang seolah menjadi tempat pembuangan terbuka tanpa sistem pengelolaan yang jelas. Kondisi ini dinilai bertolak belakang dengan rencana pengembangan kawasan sebagai pusat investasi dan pariwisata.

Secara data, tekanan terhadap sistem pengelolaan sampah di Batam memang cukup tinggi. Produksi sampah kota ini mencapai sekitar 1.100 hingga 1.300 ton per hari. Sementara itu, kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Telaga Punggur dilaporkan telah mengalami kelebihan beban, dengan tingkat pengangkutan sampah baru mencapai sekitar 70–80 persen dari total produksi harian.

Di tingkat lokal, timbulan sampah domestik di Rempang diperkirakan mencapai 3,7 hingga 5,2 ton per hari. Angka tersebut memperlihatkan bahwa sistem pengelolaan sampah regional sudah berada dalam tekanan, bahkan sebelum pengembangan kawasan dilakukan secara masif.

Namun demikian, sorotan utama warga bukan semata pada besarnya volume sampah, melainkan minimnya fasilitas dasar. Hingga kini, ketersediaan Tempat Penampungan Sementara (TPS) masih terbatas, armada pengangkutan dinilai tidak memadai, serta belum adanya sistem pengelolaan yang konsisten.

Ketua RT di Dapur 6, Asri, menyebut warga hanya membutuhkan solusi sederhana namun berkelanjutan. Menurutnya, kondisi saat ini mendorong sebagian warga mengambil langkah mandiri dengan membakar sampah atau membuangnya ke lingkungan sekitar, termasuk ke pesisir.

Praktik ini berisiko mencemari lingkungan dan merusak ekosistem laut yang menjadi salah satu potensi utama Rempang.

“Kami berharap ada TPS di lingkungan dan pengangkutan rutin, minimal dua kali seminggu. Kalau tidak, sampah akan terus menumpuk,” ujarnya.

Pihaknya mempertanyakan keseriusan pemangku kebijakan, khususnya BP Batam dan Pemerintah Kota Batam. Kritik tidak hanya diarahkan pada lemahnya pengelolaan sampah, tetapi juga pada ketimpangan antara ambisi pembangunan besar dengan kesiapan infrastruktur dasar.

Seruan “jangan sampai Rempang dianak-tirikan” menjadi pesan yang menguat di tengah masyarakat. Warga berharap pembangunan tidak hanya berfokus pada investasi, tetapi juga memperhatikan kualitas hidup dan keberlanjutan lingkungan.

“Pemerintah daerah sendiri telah menyatakan komitmennya terhadap pembangunan berkelanjutan. Namun, masyarakat kini menanti realisasi konkret di lapangan,” jelasnya. (Nando)

Read Entire Article
Alur Berita | Malang Hot | Zona Local | Kabar Kalimantan |